Selasa, 27 Mei 2014

Koordinasi Tubuh

Koordinasi Tubuh

1. Sistem Saraf.
Sistem saraf merupakan sistem koordinasi atau sistem kontrol yang bertugas menerima rangsangan, menghantarkan rangsangan kesemua bagian tubuh, dan sekaligus memberikan tanggapan terhadap rangsangan tersebut. Dengan kata lain, sistem saraf bertugas memberitahukan kepada bagian-bagian tubuh tentang apa dan kapan sesuatu harus dilakukan. Jadi, sistem saraf merupakan jaringan komunikasi dalam tubuh.

Sistem saraf terdiri dari jutaan sel saraf (neuron) yang berfungsi mengirimkan pesan atau (impuls) yang beberapa rangsangan atau tanggapan. Setiap neuron terdiri dari suatu badan sel yang didalamnya terdapat sitoplasma dan inti sel. Dalam kegiatannya saraf mempunyai hubungan kerja seperti rantai (berurutan) antara reseptor dan efektor. Reseptor adalah satu atau sekelompok sel saraf dan sel lainnya yang berfungsi mengenali rangsangan tertentu yang berasal dari luar atau dalam tubuh. Efektor adalah sel atau organ yang menghasilkan tanggapan terhadap rangsangan. Contohnya : otot, dan kelenjar.

Gambar Struktur Sel Saraf
 
Fungsi dasar sistem saraf-saraf adalah untuk membuat organisme menjadi terbiasa terhadap lingkungnnya dan merangsang organime agar menyesuaikan diri secara menguntungkan terhadap lingkungannya. Sistem saraf juga berperan mengatur lingkungan dan menjadi temoat penyimpanan (penimbunan) informasi. Fingsi-fungsi tersebut dapat terlaksanan melalui saraf, saraf tunjang (spinalcord), dan otak yang berasosiasi dengan resetor (organ indra) dan efektor (terutama otot dan kelenjar-kelenjar).
Neuron merupakan unit fungsional dan structural sistem saraf pada semua hewan multi sel. Diameter rata-rata neuron yaitu < 0,1 mm tetapi panjangnya dapat mencapai beberapa meter. Secara garis besar neuron terbagi atas 3 bagian, yaitu :
1.    Dendrit, merupakan bagian neuron yang berada pada salah satu ujung sel saraf dan memiliki struktur yang merumbai-umbai. Dendrit di khususkan untuk menerima rangsangan baik dari rangsangan lingkungan, maupun rangsangan dadi sel lain.
2. Akson, merupakan proses yang panjang yang di khususkan untuk pembagi atau meneruskan rangsangan atau impuls menjadi zona dendrit.
3.    Badan sel (soma), mengandung inti. Badan sel saraf terdapatnya terbatas hanya atau bahkan kelabu (substansinya) grisea.
Berdasarkan fungsinya sel saraf yang membawa impuls dari reseptor disebut sel saraf sensori dengan sel saraf motori disebut sel saraf interneuron (sel saraf penghubung).
Neuron (sel saraf) dapat di kelompokkan dengan dua cara, yaitu :
1.    Berdasarkan jumlah uluran neuron.
Pengelompokkan neuron berdasarkan jumlah uluran neuron dapat dibagi menjadi 3, yaitu sebagai berikut :
a.    Neuron  Unipolar. 
    Neuron unipolar hanya mempunyai satu saluran dan kebanyakan terdapat pada hewan rendah. Pada manusia neuron sensonik adalah unipolar karena mempunyai satu saluran yang timbul dari badan sel.
Gambar Neuron Unipolar

b.    Neuron Bipolar. 
    Neuron bipolar mempunyai dua uluran yang keluar dari badan sel, yakni uluran akson dan uluran dendrit. Badan selnya berbentuk lonjong, ulurannya timbul dari dua ujung badan sel. Neuron jenis ini terdapat pada retina (mata), kolea (telingan), dan epitel olfakto (hidung).


 Gambar Neuron Bipolar


c.    Neuron Multipolar. 
     Neuron ini mempunyai satu akson dan beberapa dendrit. Neuron jenis ini paling banyak terdapat didalam tubuh manusia, dibandingkan dengan neuron unipolar dan bipolar. Neuron motoric yang keluar dari sum-sum tulang belakang semuanya adalah jenis neuron multipolar.
Gambar Neuron Multipolar
 
2.    Berdasarkan struktur dan fungsinya.
Berdasarkan struktur dan fungsinya, sel saraf terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu :
a.    Sel Saraf Sensori.
Sel saraf sensori berfungsi untuk menghantar impuls dari reseptor ke sistem saraf pusat, yaitu otak (ensefalon) dan sumsum tulang belakang (medulla spinalis).
b.    Sel Saraf Motor.
Berfungsi untuk mengirim impuls dari sistem saraf pusat ke oto atau kelenjar yang hasilnya berupa tanggapan tubuh rangsangan. Badan sel saraf motor berada di sistem saraf pusat.
c.    Sel Saraf Intermediet.
Sel ini disebut juga sel saraf asosiasi. Sel ini dapat ditemukan di dalam sistem saraf pusat dan berfungsi menghubungkan sel saraf motor dengan sel saraf sensoria atau berhubungan dengan sel saraf lainnya yang ada di dalam sistem saraf pusat.

2. Susunan Sistem Saraf Manusia.
Sistem saraf manusia terdiri atas sistem saraf sadar dan sistem saraf tak sadar (otonom). Sistem saraf sadar terdiri atas sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Sistem saraf otonom terdiri atas sistem saraf simpatis dan parasimpatis.

A.  Sistem Saraf Pusat.
Sistem saraf pusat merupakan pusat koordinasi, yang mengkoordinir informasi saraf yang keluar dan masuk. Sistem saraf pusat meliputi otak (ensefalon) dan sumsum tulang belakang (medulla spinalis). Keduanya merupakan organ yang sangat lunak, dengan fungsi yang sangat penting maka perlu perlindungan. Selain tengkorak dan ruas-ruas tulang belakang, otak juga dilindungi tiga lapisan selaput meninges. Bila membrane ini terkena infeksi maka akan terjadi radang yang disebut meningitis.
Otak dan sumsum tulang belakang mempunyai 3 materi esensial, yaitu :
1.    Badan sel yang membentuk bagian materi kelabu (sum substansi grissea).
2.    Serabut saraf yang membentuk bagian materi putih (substansi alba).
3.    Sel-sel neuroglia, yaitu jaringan ikat yang terletak diantara sel-sel saraf didalam sistem saraf pusat.
Walaupun otak dan sumsum tulang belakang mempunyai materi yang sama tetapi memiliki perbedaan. Pada otak, materi kelabu terletak dibagian luar atau kulitnya (korteks) dan bagian putih terletak ditengah. Pada sumsum tulang belakang, bagian tengah berupa materi kelabu berbentuk kupu-kupu, sedangkan bagian korteks berupah materi putih.
Sumsum tulang belakang mempunyai fungsi utama sebagai penghubung impuls dari dan ke otak, serta memberi kemungkinan jalan yang terpendek pada gerak refleks.
Otak mempunyai lima bagian utama, yaitu : otak besar (serebrum), otak tengah (mesensepalon), otak kecil (serebelum), sum-sum sambung (medulla oblongata), dan jembatan varol.
1)   Otak Besar (serebrum).
Otak besar mempunyai fungsi dalam pengaturan semua aktivitas mental, yaitu yang berkaitan dengan kepandaian (intelegensi), ingatan (memori), kesadaran, dan pertimbangan. Otak besar merupakan sumber dari semua kegiatan/gerakan sadar atau sesuai dengan kehendak, walaupun ada juga beberapa gerakan refleks otak.
2)   Otak Tengah (mesensefaon).
Otak tengah terletak didepan otak kecil jembatan voral. Didepan otak tengah terdapat thalamus dan kelenjar hipofisis yang mengatur kerja kelenjar-kelenjar endokrin. Bagian atas otak tengah merupakan lobus optikus yang mengatur refleks mata seperti penyempitan pupil mata, dan juga merupakan pusat pendengaran.
3)   Otak Kecil (cerebellum).
Otak kecil berfungsi sebagai pusat keseimbangan otot dan koordinasi otot. Bila ada rangsangan yang merugikan atau bahaya maka gerakan sadar yang normal tidak mungkin dilaksanakan.
4)   Jembatan Varol.
Jembatan varol berisi serabut saraf yang menghubungkan otak kecil bagian kiri dan kanan, juga menghubungkan otak besar dan sum-sum tulang belakang.
5)   Sumsum Sambung.
Sumsum sambung berfungsi menghantarkan impuls yang dating dari medulla spinalis menuju ke otak. Sumsum sambung juga mempengaruhi reflex psikologi seperti detak jantung, tekanan darah, volume dan kecepatan respirasi, dan sekresi kelenjar pencernaan. Selain itu, sumsum sambung juga mengatur gerak refleks yang lain seperti bersin, batuk, dan berkedip.
B.  Sistem Saraf Tepi (saraf perifer).
Sistem saraf tepi terdiri atas serabut-serabut saraf yang menghubungkan pusat dengan alat-alat tubuh. Serabut saraf tersebut terdiri atas sel-sel saraf yang berfungsi membawa impus saraf dari reseptor ke pusat, disebut saraf aferen, dan serabut saraf yang membawa impuls dari pusat ke efektor, disebut saraf eferen.
C.  Sistem Saraf Otonom.
Sistem saraf ini mengendalikan gerakorgan-organ tubuh untuk bekerja secara otomatis, misalnya alat peredaran, pernapasan, perubahan pupil, dan lain-lain. Sistem saraf ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
a.    Saraf Simpatis.
Saraf ini berpangkal pada sumsum tulang belakang didaerah leher dan pinggang. Fungsi sistem saraf ini adalah untuk mengaktifkan berbagai organ tubuh agar bekerja otomatis. Sifat saraf simpatis adalah mengaktifkan kerja alat.
b.    Saraf Parasimpatis.  
    Serabut saraf ini berpangkal pada sumsum lanjutan. Sifat kerja saraf ini berlawanan dengan sifat kerja saraf simpatis. Bila kerja saraf simpatis mengaktifkan fungsi suatu alat, maka saraf parasimpatis menghambat fungsi suatu alat, begitu juga sebaliknya. Efek kerja yang berlawanan tersebut akan menghasilkan suatu peristiwa yang menuju keadaan normal.

3. Mekanisme Penghantaran Impuls. 
Impuls dapat dihantarkan melaui beberapa cara, diantaranya melalui sel saraf dan sinapsis.

a.    Melalui Sel Saraf.
Penghantaran impuls baik yang berupa rangsangan ataupun tanggapan melalui serabut saraf (akson) dapat terjadi Karen adanya perbedaan potensial listrik antara bagian luar dan bagian sel. Pada waktu sel saraf beristirahat, kutub positif terdapat dibagian luar dan kutub negative terdapat dibagian dalam sel saraf. Diperkirakan bahwa rangsangan (stimulus) pada indra menyebabkan terjadinya pembalikan perbedaan potensial listik sesaat. Perubahan potensial ini terjadi berurutan sepanjang serabut saraf.
Bila impuls telah lewat, maka untuk sementara serabut saraf tidak dapat dilalui oleh impuls, karena terjadi perubahan potensial kembali seperti semula (potensial istirahat). Untuk dapat berfungsi kembali diperlukan waktu 1/500 sampai dengan 1/1000 detik. Energy yang digunakan berasal dari hasil pernapasan sel yang dilakukan oleh mitokondria dalam sel saraf. Stimulus yang kurang kuat atau di bawah ambang tidak akan menghasilkan impuls yang dapat merubah potensial listrik. Tetapi bila kekuatannya diatas ambang maa impuls akan dihantarkan sampai keujung akson. Stimulus yang kuat dapat menimbulkan jumlah impuls yang lebig besar pada periode waktu tertentu daripada impuls yang lemah.
b.    Penghantar Impuls Melalui Sinapsis.
Titik temu antara terminal akson salah satu neuron dengan neuron lain dinamakan sinapsis. Setiap terminal akson membengkak membentuk tonjolan sinapsis. Di dalam sitoplasma tonjolan sinapsis terdapat struktur kumpulan membran kecil berisi neurotransmitter; yang disebut vesikula sinapsis. Neuron yang berakhir pada tonjolan sinapsis disebut neuron pra-sinapsis. Membran ujung dendrit dari sel berikutnya yang membentuk sinapsis disebut post-sinapsis. Bila impuls sampai pada ujung neuron, maka vesikula bergerak dan melebur dengan membran pra-sinapsis. Kemudian vesikula akan melepaskan neurotransmitter berupa asetilkolin. Neurontransmitter adalah suatu zat kimia yang dapat menyeberangkan impuls dari neuron pra-sinapsis ke post-sinapsis.
Neurontransmitter ada bermacam-macam misalnya asetilkolin yang terdapat di seluruh tubuh, noradrenalin terdapat di sistem saraf simpatik, dan dopamin serta serotonin yang terdapat di otak. Asetilkolin kemudian berdifusi melewati celah sinapsis dan menempel pada reseptor yang terdapat pada membran post-sinapsis. Penempelan asetilkolin pada reseptor menimbulkan impuls pada sel saraf berikutnya. Bila asetilkolin sudah melaksanakan tugasnya maka akan diuraikan oleh enzim asetilkolinesterase yang dihasilkan oleh membran post-sinapsis.  
Antara saraf motor dan otot terdapat sinapsis berbentuk cawan dengan membran pra-sinapsis dan membran post-sinapsis yang terbentuk dari sarkolema yang mengelilingi sel otot. Prinsip kerjanya sama dengan sinapsis saraf-saraf lainnya.


4. Terjadinya Gerak Biasa dan Gerak Refleks.
Gerak pada umumnya terjadi secara sadar, namun adapula gerak yang terjadi tanpa disadari yaitu gerak refleks. Impuls pada gerakan sadar melalui jalan panjang, yaitu dari reseptor, ke saraf sensorik, di bawa ke otak untuk selanjutnya diolah otak, kemudian hasil olahan oleh otak berupa tanggapan, dibawa oleh saraf motor yang harus dilaksanakan oleh efektor.
Gerakan refleks berjalan sangat cepat dan tanggapan terjadi secara otomatis terhadap rangsangan, tanpa memerlukan control dari otak. Jadi dapat dikatakan gerakan dapat terjadi tanpa dipengaruhi terlebih dahulu. Contoh gerak refleks misalnya berkedip, bersin, dan batuk. Pada gerak refleks, impuls melalui jalan pintas, yaitu dimulai dari reseptor menerima rangsangan,kemudian diteruskan oleh saraf sensori kepusat saraf, diterima oleh sel saraf penghubung (asosiasi) tanpa diolah didalam otak langsung dikirim tanggapan kesaraf motor untuk disampaikan ke efektor, yaitu otot atau kelenjar. Jalan pintas ini disebut langkah refleks. 

DAFTAR PUSTAKA
Prawirohartono, Slamet & Hidayati, Sri. 2007. Sains BIOLOGI 2 SMA/MA Kelas XI. Jakarta: PT. Bumi Aksara.



 

Keterampilan Menulis

“KETERAMPILAN MENULIS”

1. Pengertian, Tujuan, dan Manfaat Menulis. 

Menurut pendapat Poerwadaminta (1987 : 1098) dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “Menulis ialah melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat, dan sebagainya)”.
Sedangkan menurut pendapat dari A. Widyamartaya, “Menulis adalah suatu proses kegiatan pikiran manusia yang hendak mengungkapkan kandungan jiwanya kepada orang lain, atau kepada dirinya sendiri, dalam tulisan. Kegiatan menulis ini adalah suatu kegiatan manusia sadar dan terarah, mempunyai swakerja atau mekanika yang perlu kita perhatikan agar tulisan kita berhasil baik swakerja ini meliputi kegiatan-kegiatan pada tahap penulisan. (1988 : 9)
Menulis adalah bentuk yang disampaikan melalui alat tulis yang bersifat gagasan, buah pikiran, perasaan yang membentuk satu kesatuan pikiran selalu lengkap dan utuh. Menurut pendapat Tarigan ada 7 tujuan menulis, yaitu sebagai berikut :
  • Tujuan penugasan (assiggment purpose), dalam hal ini penulis membuat sebuah tulisan karena ditugaskan bukan karena kemauan sendiri. 
  • Tujuan altruistic (altruistic purpose), dalam hal ini penulisan bertujuan untuk menyenangkan para pembaca, menghilangkan kedudukan para pembaca, ingin menolong para pembaca memahami, menghargai perasaan dan penalarannya, ingin membuat hidup para pembaca lebih mudah dan lebih menyenangkan dengan karya itu. 
  • Tujuan persuasive (persuasive purpose), dalam hal ini penulis bertujuan meyakinkan para pembaca akan gagasan yang diutarakan. 
  • Tujuan informasi (informational purpose) dalam hal ini penulis bertujuan memberi informasi atau keterangan. 
  • Tujuan pernyataan diri (self expressive), dalam hal ini penulis bertujuan menyatakan diri kepada para pembaca.
  • Tujuan kreatif (creative purpose), penulis bertujuan mencapai nilai-nilai arsitik, nilai-nilai kesenian. 
  • Tujuan pemecahan masalah (problem solving purpose), penulis ingin menjelaskan, menjernihkan, serta menjelajahi dan meneliti secara cermat pikiran-pikiran dan gagasan-gagasannya sendiri agar dapat dimengerti dan diterima oleh pembaca, (1983 : 24-25)
Graves (dalam Akhadiah dkk., 1998:1.4) berkaitan dengan manfaat menulis mengemukakan bahwa :
1)   Menulis Mengasah Kecerdasan.
Menulis adalah suatu aktivitas yang kompleks. Kompleksitas menulis terletak pada tuntutan kemampuan mengharmonikan berbagai aspek. Aspek-aspek itu meli-puti (1) pengetahuan tentang topik yang akan dituliskan, (2) penuangan pengetahuan itu ke dalam racikan bahasa yang jernih, yang disesuaikan dengan corak wacana dan kemampuan pembacanya, dan (3) penyajiannya selaras dengan konvensi atau aturan penulisan. Untuk sampai pada kesanggupan seperti itu, seseorang perlu memiliki kekayaan dan keluwesan pengungkapan, kemampuan mengendalikan emosi, serat menata dan mengembangkan daya nalarnya dalam berbagai level berfikir, dari tingkat mengingat sampai evaluasi.
2)   Menulis Mengembangkan Daya Inisiatif dan Kreativitas.
Dalam menulis, seseorang mesti menyiapkan dan mensuplai sendiri segala sesuatunya. Segala sesuatu itu adalah (1) unsur mekanik tulisan yang benar seperti pungtuasi, ejaan, diksi, pengalimatan, dan pewacanaan, (2) bahasa topik, dan (3) pertanyaan dan jawaban yang harus diajukan dan dipuaskannya sendiri. Agar hasilnya enak dibaca, maka apa yang dituliskan harus ditata dengan runtut, jelas dan menarik.
3)   Menulis Menumbuhkan Keberanian.
Ketika menulis, seorang penulis harus berani menampilkan kediriannya, ter-masuk pemikiran, perasaan, dan gayanya, serta menawarkannya kepada publik. Kon-sekuensinya, dia harus siap dan mau melihat dengan jernih penilaian dan tanggapan apa pun dari pembacanya, baik yang bersifat positif ataupun negatif.
4)   Menulis Mendorong Kemauan dan Kemampuan Mengumpulkan Informasi.
Seseorang menulis karena mempunyai ide, gagasan, pendapat, atau sesuatu hal yang menurutnya perlu disampaikan dan diketahui orang lain. Tetapi, apa yang disampaikannya itu tidak selalu dimilikinya saat itu. Padahal, tak akan dapat me-nyampaikan banyak hal dengan memuaskan tanpa memiliki wawasan atau pengeta-huan yang memadai tentang apa yang akan dituliskannya. Kecuali, kalau memang apa yang disampaikannya hanya sekedarnya.
Kondisi ini akan memacu seseorang untuk mencari, mengumpulkan, dan me-nyerap informasi yang diperlukannya. Untuk keperluan itu, ia mungkin akan membaca, menyimak, mengamati, berdiskusi, berwawancara. Bagi penulis, pemero-lehan informasi itu dimaksudkan agar dapat memahami dan mengingatnya dengan baik, serta menggunakannya kembali untuk keperluannya dalam menulis. Implikasi-nya, dia akan berusaha untuk menjaga sumber informasi itu serta memelihara dan mengorganisasikannya sebaik mungkin. Upaya ini dilakukan agar ketika diperlukan, informasi itu dapat dengan mudah ditemukan dan dimanfaatkan. Motif dan perilaku seperti ini akan mempengaruhi minat dan kesungguhan dalam mengumpulkan infor-masi serta strategi yang ditempuhnya.
Menulis banyak memberikan manfaat, di antaranya (1) wawasan tentang topik akan bertambah, karena dalam menulis berusaha mencari sumber tentang topik yang akan ditulis, (2) berusaha belajar, berpikir, dan bernalar tentang sesuatu misalnya menjaring informasi, menghubung-hubungkan, dan menarik simpulan, (3) dapat menyusun gagasan secara tertib dan sistematis, (4) akan berusaha menuangkan gagasan ke atas kertas walaupun gagasan yang tertulis me-mungkinkan untuk direvisi, (5) menulis memaksa untuk belajar secara aktif, dan (6) menulis yang terencana akan membisakan berfikir secara tertib dan sistematis. 
2. Jenis-Jenis Tulisan.

Pembagian atatu golongan menulis dapat di tinjau dari beberapa penulisan berdasarkan tujuan penulisan ini di bagi lima bagian :

1)   Eksposisi.

Eksposisi atau paparan adalah tulisan yang berusaha menerangkan atau menjelaskan sesuatu hal atau gagasan. Keterangan, atau dapat pula mengembangkan sebuah gagasan, sehingga menjadi luas dan gampang dimengerti.
2)   Deskripsi.
Deskripsi adalah tulisan yang berusaha melukiskan atau memberikan suatu objek beserta rinciannya. Objek yang dilukiskan ada sesuatu yang sudah diamati penulis atau sesuatu yang menjadi pengalaman penulis. Jadi objek dapat berupa pandangan tempat, suasana, kegiatan, dan lain-lain. Kemudian dapat dilukiskan adalah bagian dari objek.
Tujuan penulisan deskripsi adalah agar pembaca dapat seolah-olah melihat, mendengar, merasakan yang disampaikan penulis.
3)   Argumentasi.
Argumentasi adalah tujuan yang mengungkapkan pendapat atau gagasan, sikap, dan keyakinan dengan memberikan alasan contoh, dan bukti-bukti sebagai bahan yang cukup kuat serta meyakinkan.
Tujuan meyakinkan argumentasi adalah agar penbaca itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan penulis.
4)   Persuasi.
Persuasi adalah tulisan yang mengemukakan gagasan penulis untuk mempengaruhi para pembaca untuk meyakinkan pembaca tentang apa yang dituliskan oleh penulis agar pembaca dapat terpengaruh atau setuju dengan gagasan yang disampaikan oleh penulis.
5)   Narasi.
Narasi adalah tulisan yang berusaha mengisahkan suatu kejadian atau peristiwa sehingga seolah-olah pembaca melihat atau merasakan sendiri kejadian itu.
Tujuan penulisan narasi adalah memberitahukan peristiwa-peristiwa yang disampaikan penulis agar pembaca mengetahui dengan jelas tentang rangkaian peristiwa yang disampaikan.
Narasi adalah karangan yang bersifat mengisahkan atau bercerita. Didalam karangan narasi sering terdapat dialog para tokoh ceritanya, disamping uraian biasa. Dengan dialog, cerita lebih hidup dan menarik untuk dibaca. Bentuk cerita yang hanya menguraikan jalan cerita tanpai dibumbuhi dengan dialog pasti hambar.
A Hadi Nafiah mengatakan bahwa, “Dengan dialog cerita memang terasa lebih hidup atau menarik sehingga lebih dapat menghasilkan bagi pembaca, lukisan watak, pribadi, kecerdasan, sikap atau tingkah pendidikan tokoh dalam cerita yang disuguhkan acapkali dapat lebih tepat dan mengenai apabila ditambahkan dialog-dialog (1981 : 66).
 
3. Proses Penulisan.
1)   Tahap Prapenulisan.

Tahap ini merupakan tahap persiapan. Pada tahap ini menentukan apa yang akan ditulis dan dibahas. Penentuan itu akan mengarahkan dan membatasi tulisan. Tahap ini meliputi beberapa kegiatan yang akan diuraikan satu persatu.

2)   Pemilihan Topik.
Kegiatan yang pertama adalah memilih topik. Memilih topil berarti memilih apa yang akan menjadi pokok pembicaraan dalam tulisan. Topik itu dapat diperoleh dari beberapa sumber, yaitu : pengalaman, pengalaman, pendapat/penalaran, dan khalayan. Topik-topik karangan ilmiah banya yang bersumber pada pengamatan, pengalaman, dan penalaran.
Dalam memilih topik untuk karangan ilmiah, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan :
a.    Ada manfaatnya untuk perkembanagn ilmu atau profesi.
b.    Cukup menarik untuk dibahas.
c.    Dikenal dengan baik.
d.   Bahannya dapat diperoleh.
e.    Tidak terlalu luad dan tidak terlalu sempit.
3)   Pembatasan Topik.
Kegiatan yang keda adalah pembatasan topik. Jika sudah merasa sesuia dengan topik tang dipilih, maka selanjutnya yaitu membatasinya. Diatas sudah menyebutkan bahwa salah satu persyaratan topik itu tidak boleh terlalu luas atau terlalu sempit. Topik yang terlalu luas tidak memberikan kesempatan kepada untuk membahasnya secara mendalam, apalagi jika waktu terbatas. Sebaliknya, topik yang terlalu sempit akan bersifat sangat khusus dan tidak banyak gunanya untuk bidang profesi, kecuali jika melaporkan hasil suatu studi kasus. Karena itu, sejak taraf permulaan penulis harus sudah membatasinya.
Tentu saja, dapat langsung memikirkan suatu topik yang terbatas. Tetapi, apabila seorang pemula, sebaiknya buat dahulu diagram jam atau diagram pohon.
4)   Judul Karangan.
Dalam pelaksanaannya, topik yang telah dipilih itu dinyatakan dalam suatu judul karangan. Topik dengan judul tidak sama. Topik adalah pokok pembicaraan, sedangkan judul adalah nama, title, atau semacam label untuk suatu karangan.
Judul karangan ilmiah hharus dipikirkan sungguh-sungguh dengan mengingat beberapa persyaratan, antara lain :
a.    Harus sesuai dengan topik atau isi dan jangkauannya.
b.    Sebaiknya dinyatakan dalam frase bukan kalimat.
c.    Sesingkat mungkin.
d. Sejelas mungkin, tidak dinyatakan dalam kata kiasan dan tidak mengandung kata bermakna ganda.
  4. Hal-Hal yang Mendukung Seseorang untuk Terampil dalam Menulis.
 Kemampuan menulis adalah kemampuan seseorang untuk menuangkan buah pikiran, ide, gagasan, dengan mempergunakan rangkaian bahasa tulis yang baik dan benar. Kemampuan menulis seseorang akan menjadi baik apabila dia juga memiliki :

1)   Kemampuan untuk menemukan masalah yang akan ditulis.

2)   Kepekaan terhadap kondisi pembaca.

3)   Kemampuan menyusun perencanaan penelitian.
4)   Kemampuan menggunakan bahasa indonesia.
5)   Kemampuan memuali menulis.
6)   Kemampuan memeriksa karangan sendiri.
Kemampuan tersebut akan berkembang apabila ditunjang dengan kegaiatan membaca dan kekayaan kosakata yang dimilikinya.
Beberapa cara menulis yang dapat kita terapkan untuk meningkatkan kemampuan menulis dalam diri kita antara lain sebagai berikut :
1)   Banyak membaca.
Menulis pada dasarnya adalah menuangkan ide dan gagasan yang kita miliki. Hasil tulisan tersebut dapat bersifat argumentasi, persuasi, deskripsi, dan eksposisi. Karena tulisan berawal dari sebuah ide dan gagasan yang ingin disampaikan, hal pertama yang harus kita pikirkan dalam menulis adalah ide atau gagasan apa yang kita miliki untuk kemudian kita tuangkan dalam sebuah tulisan.
Kita dapat mencari ide dan gagasan tersebut dari berbagai sumber. Seperti pengalaman pribadi, pengetahuan yang sudah dimiliki, opini, dsb. Cara terbaik untuk memperluas dan memperkaya ide dan gagasan tersebut adalah dengan cara membaca. Semakin banyak kita membaca maka pengetahuan kita akan semakin bertambah banyak. Selain memperkaya ide, banyak membaca juga secara tidak langsung akan mengajarkan pada kita bagaimana gaya bahasa dalam menulis yang baik dan benar seperti dicontohkan oleh penulis dan pengarang buku-buku bacaan yang telah kita baca.
2)   Menulis secara teratur.
Menulis yang teratur dapat menjaga dan meningkatkan kualitas tulisan yang kita hasilkan. Hal ini dikarenakan kebiasaan menulis yang dijaga dengan baik tidak akan melunturkan cara dan gaya bahasa kita dalam menulis. Kita juga dapat mengatur frekuensi menulis kita agar kegiatan menulis tidak membuat hidup kita menjadi jenuh. Misalnya, kita menulis minimal seminggu sekali atau sesuai dengan jadwal kesibukan kita masing-masing.
3)   Belajar cara menulis yang baik dan benar.
Dalam rangka mengembangkan kemampuan menulis yang kita miliki, kita juga dapat belajar bagaimana cara menulis yang baik dan benar dari berbagai sumber referensi yang terpercaya. Kita dapat mengambil kursus menulis atau belajar secara otodidak mengenai teknik menulis yang baik. Semakin banyak kita belajar menulis maka semakin banyak pula pengetahuan kita dalam membuat tulisan yang baik. Selain itu, semakin banyak kita mendekati hal-hal yang berkaitan dengan dunia tulis menulis maka secara tidak langsung akan mempengaruhi mindset kita dalam meningkatkan kemampuan menulis.
4)   Perhatikan mood.
Kondisi perasaan kita sangat berpengaruh terhadap kualitas tulisan yang dihasilkan. Ketika perasaan kita galau tidak menentu maka hasil tulisan kita pun akan terkesan berantakan dan asal-asalan. Tulisan merupakan cerminan dari kepribadian dan intelektual penulisnya. Jadi, menulis dalam keadaan mood yang baik akan sangat berpengaruh dalam menghasilkan kualitas tulisan yang bagus.
5)   Kebiasaan melakukan evaluasi.
Melakukan evaluasi terhadap hasil tulisan yang kita buat sangat penting untuk dilakukan. Hal ini bermanfaat ketika kita mengalami kesalahan dalam menulis baik berupa pengejaan kata yang salah, penulisan angka dan huruf yang salah, hingga pembuatan tulisan dengan gaya bahasa yang salah. Jangan terburu-buru untuk menerbitkan tulisan kita sebelum kita evaluasi dan merasa yakin jika tulisan yang selesai kita buat tersebut bebas kesalahan dan layak untuk dibaca banyak orang.
6)   Minta pendapat.
Salah satu cara terbaik dan cepat dalam meningkatkan kualitas menulis kita adalah dengan meminta pendapat kepada seseorang yang sudah mahir menulis mengenai tulisan yang sudah kita buat. Cara meminta pendapat ini sangat efisien dalam meningkatkan kualitas menulis kita karena kita akan cepat mengatahui di mana letak kesalahan kita dalam menulis dan bagaimana koreksi kebenarannya

     Pada dasarnya menulis itu mudah dilakukan. Kita hanya perlu sebuah ide dan menuangkannya dalam rangkaian kalimat yang mudah untuk dibaca dan dipahami isinya. Jika kita belum terbiasa menulis, jangan ragu untuk memulainya. Kesalahan akan menunjukan kita jalan kebenarannya. Dengan latihan yang rutin kita pasti mampu menciptakan karya tulisan yang bagus dan menarik untuk dibaca.

5. Tata Cara Penulisan Daftar Pustaka. 

Bila saat ini anda sedang menulis proposal ptk atau laporan ptk, atau karya tulis ilmiah lainnya, maka salah satu bagian penting dari karya tulis itu adalah pencantuman daftar kepustakaan atau daftar referensi yang dimuat dalam bentuk daftar pustaka. Lazimnya daftar pustaka dicantumkan setelah bab kesimpulan dan saran. Untuk menulis daftar pustaka sendiri ada tata aturan yang harus dipenuhi.


Daftar pustaka adalah daftar karya tulis yang digunakan atau dimanfaatkan oleh penulis selama menyusun karya tulisnya lalu kemudian karya tulis tersebut digunakannya sebagai acuan. Pada setiap karya ilmiah, daftar pustaka harus ada sebagai bukti keberadaan sumber acuan. Beberapa aturan umum yang digunakan untuk menulis daftar pustaka adalah sebagai berikut:

1)    Cara Menulis Nama pengarang/penulis.

Berkaitan dengan nama pengarang, selalu ditulis tanpa gelar dengan mendahulukan nama belakang. Setelah nama belakang ditulis, lalu diberi tanda koma (,) baru kemudian disambung dengan nama depan. Sementara untuk nama Cina penulisannya tidak perlu dibalik karena pada nama Cina nama keluarga (marga) sudah diletakkan di depan.

Contoh: 

Nama Sebenarnya
Cara Menuliskannya
Abdul Majid
Majid, Abdul
Selamat Hadi Wiyono
Wiyono, Selamat Hadi
Kim Jung Il
Kim Jung Il
Bila pengarang/penulis lebih dari dua orang Apabila kita menggunakan literatur dari karya tulis dengan pengarang lebih dari dua orang, maka hanya nama pengarang pertama yang ditulis. Nama-nama pengarang lainnya digantikan dengan ‘dkk’.
Contoh: 
Nama Pengarang Lebih dari Dua
Cara Menuliskannya
Kendal B. Taft, John G. McVernon, Charles Siegel, Donna O’Brien, dan Timothy Houston
Taft, B. Kendal dkk

2)    Cara Menulis Tahun Penerbitan.

Tahun penerbitan dituliskan di belakang nama pengarang, setelah tanda titik (.).

3)    Cara Menulis Judul Buku.

Tuliskan judul buku dengan dicetak miring (italic), kemudian setiap awal kata ditulis dengan huruf kapital. Judul ditulis setelah tanda titik (.) di belakang tahun penerbitan, kemudian diakhiri pula dengan tanda titik (.).

4)    Cara Menulis Judul Artkel .

Penulisan judul artikel mempunyai tatacara yang berbeda dengan penulisan judul buku. Bilamana judul buku ditulis dengan huruf kapital di awal setiap kata, maka untuk judul artikel, huruf kapital hanya digunakan pada huruf awal kata permulaan dari judul artikel saja.

Contoh: 

.
Judul
Cara Menuliskannya
Buku
Developing Minds
Developing Minds
Artikel
How To Teach Students So Remember
How to teach so students remember

5)    Cara Menulis Kota Tempat Buku Diterbitkan dan Nama Penerbit.

Setelah judul, dibelakang tanda titik (.) dituliskan nama kota tempat buku diterbitkan kemudian beri tanda titik dua (:) lalu tulis nama penerbit, dan akhiri dengan tanda titik.

Contoh: Banjarmasin: Alifa Alternatif Media.

Agar lebih jelas mengenai tata aturan penulisan daftar pustaka ini, perhatikan pula contoh-contoh berikut ini:

1)   Cara Menulis Karya Individual dari Internet.

Hithcoock, S. 1996. A Survey of STM Online Journals. 1990-95: The Calm Before The Storm, (Online), (http://journal.ecs.soton.ac.uk/survey.html, diakses 12 Juni 2012).

2)   Cara Menulis Artikel dari Jurnal di Internet.

Kumaidi. 1998. Pengukuran Bekal Awal Belajar dan Pengembangan Tesnya. Jurnal Ilmu Pendidikan, (Online), Jilid 5, Nomor 4, (http://www.malang.ac.id, diakses 14 Juli 2012).

3)   Buku dengan satu pengarang:

Sampurno, Adi. 2012. Gejala-Gejala Keracunan Pada Anak Balita. Jakarta: Insan Cendekia.

4)   Buku dengan dua pengarang.

Jalal, Abdul dan Kisman, Muhammad. 2011. Pendidikan Karakter untuk Pelajar-Pelajar Indonesia. Surakarta: Obor Pendidikan.

5)   Buku dengan pengarang lebih dari dua.

Luminto, Herry Asman. 2009. Menggugah Nurani Penguasa Dan Birokrat Di Negeri Tikus. Jakarta: Pena Buana.

6)   Artikel dalam buku dengan editor (penyunting).

Alwright, R. 1998. Language learning through communication practice. Dalam C.J. Broomfit dan K. Johnson (peny,). The Communicative Approach to language Teaching. Oxford, England: Oxford University Press, 167 – 182.

7)   Artikel dari jurnal.

Elisa, Nahdiatul. 2012. Penerapan metode bermain peran dalam pembelajaran matematika di SDN Pinang Seratus. Jurnal PTK Guru Indonesia, 15-20.

8)   Makalah.

Pakpahan, J. 1994. Pendidikan sistem ganda pada sekolah kejuruan. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional dan Temu Karya VII Forum Komunikasi FPTK/JPTK se-Indonesia di IKIP Surabaya (Tidak Diterbitkan). IKIP Surabaya.

9)   Artikel dari Surat Kabar/Koran.

Lopa, baharuddin. 1987. Boutros-Boutros Ghali dan Penegakan HAM.Jawa Pos. Sabtu Wage 4 Januari 1987, hlm 4.

10)  Publikasi Pemerintah dengan Pengarang.

Abdullah, A. 1983. Pendidikan Umum dan Pendidikan Kejuruan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

11)  Publikasi Pemerintah tanpa pengarang.

Dikdasmen. 1993. Data/Informasi Keadaan SLB Negeri dan Swasta. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

12)  Skripsi/Tesis/Disertasi:  


      Marisha, Caca. 2011. Kemampuan Siswa Kelas VIIB dalam Berhitung Bilangan Bulat: Sebuah Penelitian Tindakan Kelas (Skripsi S1 Tidak Diterbitkan). Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Palangkara.

 

DAFTAR PUSTAKA
Imantria, Benny., “6 Tips Meningkatkan Kemampuan Menulis”. http://panduan-belajar blog.blogspot.com/2011/12/meningkatkan-kemampuan-menulis.html   (diakses 28 November 2013).
N,N., “Hakikat Keterampilan Menulis”. http://bahasa.kompasiana.com/2012/03/25/hakikat-keterampilan-menulis-449101.html  (diakses 28 November 2013).
Putera, Ade., “Cara Penulisan Daftar Pustaka”. http://www.updatenya.com/2013/03/cara-penulisan-daftar-pustaka.html  (diakses 28 November 2013).